Tentang 5S (Seiri, Seiton, Seiso,
Seiketsu, Shitsuke)
Bagi anda yang pernah
berinteraksi dengan dunia pabrik tentunya tidak asing dengan istilah 5S. Pabrik
yang menerapkan program 5S akan terlihat bersih dan teratur. Mereka
berpikir keadaan yang berantakan akan menyembunyikan masalah. Program 5S
dipandang sebagai usaha untuk memunculkan masalah yang selama ini tersembunyi
dari para pemecah masalah (problem solver).
Saat ini, program 5S telah banyak diadopsi oleh berbagai
industri di berbagai negara. Popularitas 5S ini tak lepas dari kesuksesan
industri Jepang yang selama ini memusatkan perhatiannya terhadap
pengurangan segala pemborosan (waste). 5S adalah landasan untuk
membentuk perilaku manusia agar memiliki kebiasaan (habit) mengurangi
pembororsan di tempat kerjanya.
Program 5S pertama kali diperkenalkan di Jepang sebagai
suatu gerakan kebulatan tekad untuk mengadakan pemilahan (seiri),
penataan (seiton), pembersihan (seiso), penjagaan kondisi
yang mantap (seiketsu), dan penyadaran diri akan kebiasaan yang
diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik (shitsuke).
Masing-masing S dalam 5S beserta penjelasannya dijelaskan di bawah ini.
1S – Seiri
|
|
Seiri merupakan
langkah awal implementasi 5S, yaitu: pemilahan barang yang berguna dan tidak
berguna:
|
|
2S – Seiton
|
|
Seiton adalah
langkah kedua setelah pemilahan, yaitu: penataan barang yang berguna agara
mudah dicari,
dan aman, serta diberi indikasi.
|
|
Dalam langkah kedua ini dikenal istilah Signboard Strategy, yaitu
menempatkan barang-barang berguna secara rapih dan teratur kemudian diberikan
indikasi atau penjelasan tentang tempat, nama barang, dan berapa banyak
barang tersebut agar pada saat akan digunakan barang tersebut mudah dan cepat
diakses. Signboard strategy mengurangi pemborosan dalam bentuk
gerakan mondar-mandir mencari barang.
|
|
3S – Seiso
|
|
Seiso adalah
langkah ketiga setelah penataan, yaitu: pembersihan barang yang telah ditata
dengan rapih agar tidak kotor, termasuk tempat kerja dan lingkungan serta
mesin, baik mesin yang breakdown maupun dalam rangka program preventive maintenance (PM).
|
|
Sebisa mungkin tempat kerja dibuat bersih dan
bersinar seperti ruang pameran agar lingkungan kerja sehat dan nyaman
sehingga mencegah motivasi kerja yang turun akibat tempat kerja yang kotor
dan berantakan.
|
|
4S – Seiketsu
|
|
Seiketsu adalah
langkah selanjutnya setelah seiri, seiton, dan seiso, yaitu: penjagaan
lingkungan kerja yang sudah rapi
dan bersih menjadi
suatu standar kerja. Keadaan yang telah dicapai dalam proses seiri, seiton, danseiso harus distandarisasi.
Standar-standar ini harus mudah dipahami, diimplementasikan ke seluruh
anggota organisasi, dan diperiksa secara teratur dan berkala.
|
|
5S – Shitsuke
|
|
Shitsuke adalah
langkah terakhir, yaitu penyadaran diri akan etika kerja:
|
|
Padanan 5S dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa
Inggris dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini.
Tabel 1
Padanan 5S dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris
Padanan 5S dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris
JEPANG
|
INDONESIA
|
INGGRIS
|
|||||
5S
|
5R
|
5S
|
5P
|
5K
|
5S
|
||
1S
|
Seiri
|
Ringkas
|
Sortir
|
Sisih
|
Pemilahan
|
Ketertiban
|
Sort
|
2S
|
Seiton
|
Rapi
|
Susun
|
Susun
|
Penataan
|
Kerapihan
|
Set in Order
|
3S
|
Seiso
|
Resik
|
Sapu
|
Sasap
|
Pembersihan
|
Kebersihan
|
Shine
|
4S
|
Seiketsu
|
Rawat
|
Standarisasi
|
Sosoh
|
Penjagaan
|
Kelestarian
|
Standardize
|
5S
|
Shitsuke
|
Rajin
|
Swa-disiplin
|
Suluh
|
Penyadaran
|
Kedisiplinan
|
Sustain
|
Suksesnya 5S terletak pada sejauhmana orang melakukan 5S
sebagai suatu kebiasaan (habit) bukan
paksaan sehingga inisiatif perbaikan akan muncul dengan sendirinya. Di bawah
ini saya telah merangkum hal-hal penting untuk pelaksanaan program 5S
berdasarkan beberapa literatur dan juga perspektif pribadi saat menyaksikan
langsung aktivitas 5S di tempat kerja.
- Membutuhkan
keterlibatan/partisipasi semua orang dalam organisasi dari level atas sampai level bawah.
- Membutuhkan komitmen
manajemen untuk memastikan kegiatan 5S dilakukan setiap hari dan dianggap
sebagai prioritas.
- Merubah perspektif semua
orang dalam organisasi bahwa 5S lebih dari sekedar program kebersihan
maupun housekeeping
management.
- Menerapkan 5S secara
konsisten untuk perubahan budaya.
- Menggunakan sistem visual display untuk mengkomunikasikan
aktivitas 5S secara efektif.
- Melakukan audit 5S secara
teratur (mingguan, bulanan, dan surprise
audit) untuk menilai performance.
- Membutuhkan edukasi tentang
konsep dan keuntungan aktivitas 5S.
Continuous Improvement (CI)
A. Pengertian Continuous Improvement (CI)
Improvement berasal dari kata improve yang
artinya meningkat, dimana pada dasarnya meningkat adalah berubah menjadi lebih baik. Continuous
improvement adalah peningkatan dan perbaikan yang berkesinambungan (tiada henti) dimana mengarah pada kemajuan yang lebih baik atau unggul.
Pada dasarnya istilah continuous
improvement mengacu pada konsep Kaizen di
Jepang. Kaizen adalah suatu istilah dalam bahasa Jepang yang
dapat diartikan sebagai perbaikan terus-menerus atau perbaikan berkelanjutan.
Perbaikan secara terus-menerus dan berkesinambungan, dimulai dengan
pengembangan tim dan harus didukung oleh tim kerja. Kaizen harus
dilaksanakan oleh perusahaan atau organisasi yang menggunakan filosofi Total
Quality Management. Kaizen merupakan suatu kesatuan
pandangan yang komprehensif dan terintegrasi.
Menurut Gazper (1994), pandangan yang
komprehensif dan terintegrasi dalam Kaizen tersebut meliputi:
berorientasi pada pelanggan, pengendalian mutu secara menyeluruh (total
quality management, robotic atau menggunakan robot sebagai
alat bantu, gugus kendali mutu, sistem saran, otomatisasi, disiplin di tempat
kerja, pemeliharaan produktivitas secara menyeluruh dan terpadu, penyempurnaan
dan perbaikan mutu, tepat waktu, tanpa cacat, kegiatan kelompok-kelompok kecil,
hubungan kerja sama antar manajer dan karyawan, serta pengembangan produk.
B. Konsep Dasar Continuous Improvement
Perbaikan terus-menerus atau perbaikan
berkesinambungan merupakan salah satu unsure penting fundamental dari TQM.
Konsep perbaikan terus-menerus diterapkan baik terhadap proses, produk maupun
orang yang melaksanakan perbaikan itu sendiri.
Konsep perbaikan terus menerus dibentuk
berdasarkan pada urutan dan langkah-langkah kegiatan yang berkaitan dengan
hasil output seperti produk berupa barang dan jasa. Perhatian secara terus
menerus bagi setiap langkah dalam proses kerja sangat penting untuk mengurangi
keragaman dari output dan memperbaiki keadaan. Tujuan pertama perbaikan secara
terus menerus ialah proses yang handal, dalam arti bahwa dapat diproduksi yang
diinginkan setiap saat tanpa variasi yang diminimumkan. Apabila keragaman telah
dibuat minimum dan hasilnya belum dapat diterima maka tujuan kedua dari
perbaikan proses ialah merancang kembali proses tersebut untuk memproduksi
output yang lebih dapat memenuhi kebutuhan pelanggan, agar pelanggan puas.
TQM diwujudkan dalam rangkaian
proyek-proyek berskala kecil. Filosofi TQM memang berskala besar, inspirasional
dan meyeluruh, namun implementasi praktisnya justru berskala kecil, sangat
praktis, dan berkembang. Intervensi drastis tidak sesuai dengan semangat
perubahan yang ada dalam TQM. Skema yang muluk-muluk tidak akan menimbulkan
kemajuan, sebab hal sedemikian sering terjebak pada kurangnya sumber daya, dan
buntunya sumberdaya bisa mengakibatkan sinisme dan ketidakpuasan.
Esensi Kaizen adalah
proyek kecil yang berupaya untuk membangun kesuksesan dan kepercayaan diri, dan
mengembangkan dasar peningkatan selanjutnya. Sebuah institusi harus melakukan
aktifitas dengan teliti, proses demi proses, isu demi isu. Hal lain yang perlu
ditekankan untuk melakukan perbaikan mutu adalah bahwa implementasi tersebut
tidak harus menjadi proses yang mahal. Menghabiskan uang tidak dengan
sendirinya bisamenghasilkan mutu, meskipun dalam tahap-tahap tertentud apat
membantu.
C. Jurnal Dari Artikel Sumber
1. Perbaikan terus
menerus dalam pengembangan produk
Awalnya, konsep perbaikan terus-menerus
dibawa ke Jepang dari Amerika Serikat setelah perang dunia kedua untuk membantu
dalam rekonstruksi industri Jepang (Schroeder dan Robinson, 1991). Sebuah
konsep terkenal terkait dengan terus menerus perbaikan adalah kaizen, yang
memiliki asal-usulnya di Jepang dan berarti perubahan terus menerus untuk lebih
baik dengan melibatkan seluruh karyawan (Imai, 1986).
Bartezzaghi et al. (1997) konsep
perbaikan terus-menerus berdasarkan transfer pengetahuan antara individu yang
berbeda, proyek, dan unit organisasi (Lihat juga Nobeoka, 1995; Nobeoka dan
Cusumano, 1997). Pembelajaran Intra-proyek mana baik akuisisi dan penggunaan
pengalaman terjadi dalam proyek yang sama, sementara pembelajaran antar-project
"di mana pengalaman yang diperoleh dalam satu proyek dan ditransfer dengan
yang lain selama periode waktu "(Bartezzaghi et al., 1997).
Peneliti melihat perbaikan terus-menerus
sebagai proses dinamis, fokus pada program peningkatan dan hubungannya dengan
elemen organisasi lainnya dalam organisasi dan lingkungannya. Sebuah program
perbaikan dalam kasus ini, dipahami sebagai upaya perubahan diinduksi,
difokuskan pada peningkatan efektivitas proses yang ada organisasi (Repenning
dan Sterman, 2003). Perbaikan Program erat digabungkan dengan proses lainnya
dalam perusahaan dan pelanggan perusahaan, pemasok, pesaing, dan pasar modal
(Keating et al., 1999). Penelitian perspektif telah mengidentifikasi beberapa trade-off
dan mereka diyakini untuk menjelaskan beberapa kegagalan organisasi pengalaman
dengan inisiatif kualitas.
Perspektif disebutkan sebelumnya pada
perbaikan terus-menerus dalam produk pengembangan, semua memiliki kekuatan dan
kelemahan mereka. Salah satu isu yang perlu dipertimbangkan adalah bahwa
program peningkatan sering didasarkan pada teori manajemen mutu atau
terus-menerus perbaikan. Apa ini perspektif penelitian gagal untuk
dipertimbangkan adalah yang jenis program perbaikan yang digunakan, yang
karakteristik yang mereka miliki, dan yang prinsip kualitas harus tertanam
dalam sebuah program pada perbaikan terus-menerus
2. Sebuah perspektif kualitas pada perbaikan terus-menerus
Ada beberapa alternative yang tersedia
ketika mengadopsi perspektif kualitas pada perbaikan terus-menerus.
Hellsten dan Klefsjö (2000) melihat total quality management sebagai sistem
manajemen yang terdiri dari nilai-nilai inti, teknik, dan alat-alat. Hackman
dan Wageman (1995) menggunakan nilai-nilai inti dan intervensi (struktur,
sistem, dan / atau praktek bekerja) sebagai blok bangunan mereka. Dalam studi
ini, manajemen mutu dilihat sebagai pendekatan untuk manajemen yang dapat
ditandai dengan prinsip-prinsip, praktik, dan teknik (Dean dan Bowen, 1994).
Keuntungan dari perspektif kualitas manajemen ini adalah bahwa penerapan
prinsip-prinsip kualitas dapat diselidiki oleh wawancara tentang kegiatan
perbaikan yang dilakukan, yaitu praktek-praktek kualitas manajemen.
Definisi disarankan menekankan
pentingnya prinsip-prinsip manajemen mutu serta kebutuhan untuk
menempatkan prinsip-prinsip ke dalam praktek untuk meningkatkan kinerja
organisasi.
a) Program peningkatan
Ada beberapa cara merancang pogram perbaikan terus menerus untuk
mendukung peningkatan dalam pengembangan produk. Contoh program
peningkatan yang desain untuk enam sigma, sistem ide-manajemen, tim manajemen
proses, kaizen tim, dan desain untuk kualitas. Setiap program perbaikan
memiliki fokus yang berbeda, beberapa dari mereka mengenai perbaikan produk, sementara
yang lain didasarkan pada peningkatan proses pengembangan produk.
b) Prinsip kualitas
Menurut Dean dan Bowen (1994) sebagian besar dari apa yang telah ditulis
tentang kualitas didasarkan pada tiga prinsip:
(1) Fokus pada pelanggan.
(2) perbaikan terus-menerus.
(3) Teamwork
Nilsson et al. (2001) dan Gustafsson dkk. (2003) meneliti efek dari
orientasi pelanggan, proses orientasi, dan karyawan manajemen pada kepuasan
pelanggan dan hasil bisnis. Kedua studi empiris memberikan bukti bahwa efek
dari kualitas yang berbeda prinsip bervariasi dengan kedua ukuran organisasi
dan konteks. Sebagai contoh, pelanggan Orientasi tampaknya memiliki efek yang
lebih besar pada kepuasan pelanggan di bidang manufaktur organisasi daripada di
organisasi pelayanan, di mana orientasi proses memiliki paling berpengaruh pada
kepuasan pelanggan
3. Metodologi penelitian dan studi empiris
Penelitian studi kasus merupakan
strategi penelitian yang umum dalam banyak bidang penelitian, seperti ilmu
politik, psikologi, dan organisasi dan manajemen studi (Yin, 1989). Studi kasus
kualitatif telah dilakukan dalam tiga organisasi yaitu Clean, Space, and
Make. Secara keseluruhan, 43 wawancara dilakukan dengan para manajer dan
desainer yang terlibat dalam program peningkatan dalam pengembangan produk
(tujuh untuk wawancara Organisasi Clean, 17 wawancara Space, 19 wawancara
Make).
Pertanyaan wawancara mengikuti
pendekatan menyalurkan dari umum ke khusus dengan pertanyaan menyelidik
berdasarkan tanggapan karyawan. Personil diwawancarai pertama kali diminta
untuk menggambarkan organisasi mereka dan berbagai perbaikan mereka program.
Wawancara kemudian melihat sumber daya yang berkomitmen untuk terus menerus
perbaikan dan kegiatan perbaikan yang berlangsung.
4. Sebuah gambaran dari organisasi diselidiki
Tiga organisasi termasuk dalam studi
kasus beberapa disebut sebagai Clean, Space, dan Make. Ketiga organisasi
tersebut adalah semua divisi Swedia lebih besar perusahaan multinasional yang
didasarkan pada budaya rekayasa. Pada saat yang sama, organisasi ini mewakili
berbagai jenis industri, kompleksitas produk, pengembangan organisasi, dan
strategi untuk meningkatkan pengembangan produk.
Clean adalah anak kecil perusahaan
multinasional besar dan mengembangkan produk untuk industri pembersih.
Perusahaan ini diwakili di beberapa negara Eropa dan memiliki unit pengembangan
produk di Swedia, Amerika Serikat, dan Italia. Clean menargetkan pasar yang
matang di mana pelanggan sangat sensitif terhadap harga produk. Itu Organisasi
memiliki struktur fungsional di mana kira-kira sepuluh proyek pembangunan
dilakukan secara paralel. Dalam setiap proyek tim pengembangan terbentuk,
terdiri dari sekitar enam orang. Ada tumpang tindih peserta dalam kelompok yang
berbeda Oleh karena itu 30 orang yang terlibat dalam pengembangan produk sama
sekali. Clean memiliki menerapkan tahapan proses gerbang multi-fungsi untuk
menjalankan pengembangan produk proyek. Beberapa perubahan diproses dilakukan
selama beberapa pertama proyek, tetapi sejak itu proses memiliki belum
diperbaiki secara teratur. Bertentangan dengan proses perbaikan, Clean lebih
aktif dalam perbaikan produk. Clean memiliki dua program perbaikan yang
berbeda, salah satunya adalah skema saran tradisional dan yang lain adalah
manajemen ide berbasis intranet sistem.
Space adalah sebuah divisi kecil dari
organisasi yang lebih besar bekerja di pertahanan militer industri. Space
sangat terkait dengan Eropa Joint Program Space, dan berfokus pada pengembangan
dan produksi komponen untuk berbagai versi kendaraan ruang angkasa. Organisasi
bekerja dalam pengembangan produk. Ada 250 insinyur yang terlibat
dalampengembangan produk yang terbagi menjadi tiga struktur
organisasi di Space, yang unit bisnis, struktur fungsional, dan struktur
proses. Ketiga program perbaikan yang berbeda di Space didasarkan pada
self-assessment, kelompok kaizen, dan tim proses.
Make mengembangkan dan memproduksi
produk industri untuk pasar internasional. Produk ini terdiri dari mekanik,
elektronik, dan perangkat lunak. Perusahaan ini telah berkembang intensif
selama tahun 1990-an diukur baik dalam penjualan, volume, dan jumlah karyawan.
Penelitian ini difokuskan pada bagian dari organisasi yang bertanggung jawab
untuk pengembangan perangkat lunak, yang melibatkan sekitar 80 desainer perangkat
lunak. Ada tiga program peningkatan pada Membuat: program perbaikan berbasis
proyek, Program kegagalan-laporan, dan program laporan pasca proyek. Salah satu
fitur penting dari pekerjaan perbaikan di Make adalah bahwa semua proyek
perbaikan harus bersaing dengan proyek pembangunan untuk sumber daya yang
tersedia.
5. Sebuah analisis kegiatan perbaikan terus-menerus
Pada bagian berikut, perspektif kualitas
pada perbaikan terus-menerus akan diadopsi untuk menganalisis tiga
studi kasus.
a) Hasil dari program perbaikan
Ketiga perusahaan dalam penelitian ini
telah mengalami derajat yang berbeda dari keberhasilan dalam mereka
bekerja dengan perbaikan terus-menerus. Clean adalah perusahaan yang telah
sedikit sukses dengan perbaikan terus-menerus dalam pengembangan produk. Proses
Cara perbaikan dilakukan paling tepat digambarkan sebagai pendekatan pemadam
kebakaran, yaitu ada cara sistematis untuk meningkatkan. Upaya telah dilakukan
untuk bekerja secara aktif dengan Ulasan pasca-proyek, tetapi belum berhasil
sejauh ini. Clean telah gagal untuk melibatkan karyawan dalam perbaikan praktek
kerja, tetapi telah lebih berhasil dalam daerah tentang perbaikan produk .
Sebaliknya, Space telah melakukan sejumlah besar sumber daya untuk berbeda
program peningkatan. Efek berwujud maupun tidak berwujud dari perbaikan
kegiatan dapat diidentifikasi.
Make memonitor kinerja mereka
pengembangan produk. Sekarang sulit untuk menarik kesimpulan yang dapat
diandalkan mengenai efek dari pekerjaan perbaikan dalam program perbaikan.
Tergantung pada jumlah software release dalam rentang waktu tertentu, kinerja
pengembangan produk bervariasi. Hasil positif adalah bahwa jumlah laporan
kegagalan eksternal menurun, yaitu masalah kualitas dalam perangkat lunak lebih
sering ditemukan secara internal sebelum software mencapai pelanggan.
Seperti dijelaskan sebelumnya, Clean
telah gagal memperbaiki proses pembangunan mereka. Make memiliki masalah di
daerah ini juga, yang dapat dikaitkan dengan rendahnya adopsi, dan pemanfaatan,
proses pengembangan perangkat lunak didokumentasika, dan ini mungkin
salah satu alasan mengapa proses untuk pengembangan produk tidak digunakan.
Menurut Repenning dan Sterman (2000) ini adalah salah satu alasan mengapa
organisasi mengalami kesulitan ketika meningkatkan proses pengembangan produk.
Jika perbaikan hanya bisa dilaksanakan dalam standar, dan tidak pernah dalam
praktek, tidak ada efek yang bisa diharapkan.
b) Beberapa program peningkatan
Ketiga perusahaan dalam penelitian ini
menggunakan beberapa program untuk meningkatkan produk kinerja pembangunan.
Perubahan dalam pengembangan produk biasanya dilakukan oleh tim manajemen
(Barclay, 1992). Baik dalam Clean dan Make, manajemen bertanggung jawab untuk
sebagian besar perubahan dalam proses pengembangan produk.
Organisasi-organisasi telah lebih berhasil dalam melibatkan karyawan ketika
datang ke produk perbaikan. Upaya mereka dengan ulasan pasca proyek telah gagal
sejauh ini. ulasan tersebut tidak dilakukan, laporan yang tidak tertulis, atau
ketika mereka, laporan tersebut tidak digunakan.
Untuk meningkatkan fokus pada perbaikan
proses, Make telah meningkatkan lingkup program peningkatan yang berfokus pada
produk tradisional untuk memasukkan proses perbaikan. Di kedua Space dan Make,
ada tiga program perbaikan untuk meningkatkan praktek bekerja dalam
pengembangan produk. Untuk berhasil dengan beberapa perbaikan program, mereka
harus dikoordinasikan, dan harus ada hubungan yang jelas antara program
peningkatan berbeda. Di Space, program peningkatan tiga fokus pada perbaikan
proses dan program saling melengkapi dalam arti bahwa mereka fokus pada bagian
yang berbeda dari organisasi, yaitu proyek dan fungsi. Space memiliki program
untuk meningkatkan baik proyek (kelompok kaizen dan perbaikan proses tim) dan sisi
fungsional organisasi (program self-assessment) dan semacamnya strategi
mengurangi risiko ketidakseimbangan, selama upaya perbaikan yang berbeda
dikoordinasikan.
6. Peran yang berbeda dan interpretasi prinsip kualitas
Penyelidikan prinsip kualitas dalam
program peningkatan pada tiga kasus perusahaan memberikan hasil yang agak
mengejutkan. Orientasi proses diwujudkan dalam program perbaikan semua
perusahaan yang diteliti, tetapi adalah prinsip dengan interpretasi yang
berbeda. Dalam Clean, konsep proses ditafsirkan sebagai kontrol Proses
sedangkan Space dan Make menafsirkannya juga sebagai prasyarat untuk perbaikan
Yang paling drastis perbedaan antara
program peningkatan dalam tiga organisasi dapat ditemukan dalam komitmen
karyawan. Space adalah satu-satunya organisasi di mana semua karyawan terlibat
dalam setidaknya salah satu program perbaikan. Di perbandingan, Clean berfokus
pada perbaikan produk dilakukan oleh individu menggunakan inisiatif mereka
sendiri. Akibatnya, dalam Clean dan Make, manajemen utama Aktor yang terlibat
dalam perbaikan proses kerja. Van der Wiele dan Brown (2002) menunjukkan bahwa
partisipasi karyawan dan kerja tim adalah penting untuk mempertahankan
inisiatif perbaikan.
Space telah mengidentifikasi
pelanggan internal dan pelanggan eksternal untuk setiap proses di organisasi.
Konsep pelanggan internal tidak seperti terlihat dalam Make, sedangkan pendapat
pelanggan eksternal yang digunakan dalam pekerjaan perbaikan. Penelitian di
Clean mengungkapkan bahwa "inovasi" adalah prinsip salah satu dari
mereka program peningkatan. Sebuah sistem untuk ide-ide penanganan membantu
manajemen menekankan pentingnya menjadi inovatif dan juga bekerja sebagai
pelengkap yang lebih skema saran tradisional. Secara tradisional, inovasi tidak
terkait dengan gerakan kualitas. Cole (2001) menunjukkan bahwa perbaikan
terus-menerus harus diperluas untuk inovasi yang berkelanjutan, dan itu harus
mencakup konsep-konsep seperti eksplorasi dan inovasi terputus-putus.






0 komentar:
Posting Komentar